Memahami Nasionalisme Kita

Posted on November 20, 2006


Memahami Nasionalisme Kita
Oleh: Mochammad Zikky

Apa itu Hakikat Nasionalisme?
Dalam ilmu politik, pembahasan mengenai nasionalisme tentunya tidak dapat lepas diri kata nation itu sendiri. Ernest Renan melalui tulisannya yang amat terkenal “What is Nation?”, mengatakan nation adalah jiwa dan prinsip spiritual yang menjadi sebuah ikatan bersama, baik dalam hal kebersamaan maupun dalam hal pengorbanan. Suatu bangsa pada dasarnya ialah suatu komunitas sosial politik dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas sekaligus berkedaulatan.pada komunitas itu masing-masing anggotanya belum tentu saling mengenal satu sama lain, tetapi dibenak tiap anggotanya hidup bayangan tentang kebersamaan dan persaudaraan. Melalui konsep imagined community dapat didefinisikan beberapa unsur terbentuknya nasionalisme, yaitu adanya kesamaan perasaan senasib, kedekatan fisik/nonfisik, terancam dari musuh yang sama, dan tujuan bersama. Berbekal semangat itulah nasionalisme Indonesia lahir sebagai sebuah ikatan bersama. Dalam konteks ini, nasionalisme menjadi amunisi dalam menentang hegemoni kolonialisme.

Sejarah Gerakan Nasionalisme Indonesia
Perjalanan gerakan nasionalisme di Indonesia menurut kronologis waktu dapat dikategorikan dalam 2 tahap, yakni gerakan nasionalisme pra-kemerdekaan (1908-1945), dan pasca-kemerdekaan (1945-Sekarang). Yang urgen untuk dicatat bahwa nasionalisme Indonesia haruslah dipahami dalam hubungannya dengan munculnya perasaan antipati, bahkan benci terhadap kekuatan “asing” yang dianggap “lain”.
Pertama, nasionalisme yang lahir pra-kemerdekaan tumbuh dari keprihatinan atau impian terhadap kemerdekaan hidup. Nasionalisme yang lahir sebagai anak haram Belanda karena pelopornya yakni intelektual bumiputera (dan non bumiputera, semisal Douwes Dekker) mendapat didikan Belanda, tapi lalu melawannya. Diawali dengan Pada tahun 20 Mei 1908, manifestasi gerakan nasionalisme yang dipelopori oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Sudiohusodo dalam sebuah organisasi bernama Boedi Oetomo yang pada awal berdirinya bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan bangsa dengan cara pengumpulan dana dan pemberian beasiswa (baca : dalam bidang pendidikan). Pada perkembangan selanjutnya Boedi Oetomo berfungsi dengan Persatuan Bangsa Indonesia menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) dengan pemikiran bahwa asas kebangsaan Jawa telah tidak sesuai dengan perkembangan kebangsaan.
Nasionalisme menampakkan dirinya lagi 28 Oktober 1928 yang termanifestasikan dalam ikrar bersama para pemuda pejuang dari berbagai daerah dan ras yakni dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda. Jong Java, Sumateranen Bond, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi dan lain sebagainya bertemu dalam satu forum di Jl. Kramat Raya untuk menyatukan satu tekad bersaama, satu rahim yang sama yaitu Indonesia.
Kedua, Nasionalisme pada masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan (dengan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945) secara umum dibentuk dengan cara menciptakan suatu common enemy (musuh bersama) bagi bangsa Indonesia. Bung Karno memaknai musuh bersama bangsa Indonesia adalah kolonialisme dan neo-kolonialisme. Bentuk-bentuk gerakan nasionalisme pada masa ini bisa bermacama-macam tergantung ruang dan waktu yang melingkupinya.
– Pada masa awal kemerdekaan Indonesia bentuk gerakan nasionalisme adalah dalam wujud perlawanan fisik dan upaya diplomasi bangsa Indonesia dalam upaya untuk mempertahankan kedaulatan RI. Peristiwa-peristiwa yang dapat dicatat yaitu; pertempuran tanggal 10 November 1945, di Surabaya, Bandung Lautan Api, Palagan Ambarawa, Konferensi Linggarjati, Konferensi Renville, serta KMB, termasuk didalamnya upaya penanggulangan pemberontakan dari dalam negeri sendiri (DI/TII, PRRI/Permesta, RMS) baik Belanda maupun para pemberotak adalah sama-sama musuh bersama bangsa Indonesia yang harus dilawan demi menegakkan kedaulatan negera RI.
– Pada tahun 1963, Soekarno menentang pembentukan Negara Federasi Malaysia, karena mengangap itu sebagai proyek neo-kolonialisme Inggris yang dapat membahayakan revolusi Indonesia yang belum selesai. Maka pada saat itu bangsa Indonesia dikondisikan untuk kemudian menganggap Malaysia sebagai musuh bersama bangsa Indonesia dan mesti dilawan, yang kemudian melahirkan ultimatum Ganyang Malaysia yang terkenal itu.
– Tahun 1966, gerakan nasionalisme Indonesia dimanifestasikan dengan menciptakan musuh bersama bernama PKI dan Orla.
– Dalam era Reformasi 1998-2003, gerakan nasionalisme menampakkan wujudnya dalam wajah yang baru dan berbeda dari model nasionalisme pada masa rezim Soekarno yakni dalam bentuk perlawanan terhadap represi politik rezim yang berkuasa dan dalam perlawanan daerah terhadap pusat. Tragedi 12 Mei 1998 terjadi penembakan mahasiswa Trisakti, dan 1 Januari 2001 saat diberlakukannya OTODA merupakan momentum puncak dari gerakan nasionalisme pada masa transisi menuju demokrasi di Indonesia.

Memahami Jati Diri Indonesia Saat ini
Memahami sebuah jati diri bangsa, tentunya tidak dapat lepas dari pemahaman tentang kesejarahan, tujuan, dan kearifan lokal (local wisdom) dalam prespektif sosial-budaya yang dimiliki Indonesia. Indonesia yang baru saja berulang tahun ke-61, angka yang cukup tua dalam ukuran umur, tentunya sudah banyak makan garam dalam perkembangan diri sebagai suatu bangsa yang merdeka. Akan tetapi, kita tentunya merasakan bahwa bangsa kita kini kian meredup sinar nasionalismenya. Dalam kacamata penulis, sebab utamanya adalah kian maraknya praktik-praktik negatif kekuasaan. Mulai dari buruknya kinerja serta rusaknya etika birokrat, elit politik, para penegak hukum, serta aneka tindakan represif Negara sampai pada ketidakadilan pembagian “kue pembangunan” telah mengakibatkan makin menguatnya gejala ketidakpatuhan sosial dalam masyarakat. Hal itu kemudian mengakibatkan hilangnya kepercayaan (distrust) masyarakat terhadap Negara. Masyarakat tidak memiliki panutan dalam bertindak, akibatnya lebih lanjut dari hal ini adalah semakin memudarnya kohesi sosial bangsa Indonesia. Belum lagi dis-integrasi bangsa yang sudah seringkali terancam. Munculnya paham-paham ideologi kebangsaan baru yang tidak arif dalam prespektif kearifan lokal (local wisdom) bangsa Indonesia, yang ujung-ujungnya sangat mengancam keberadaan Indonesia sebagai NKRI.
Dalam pandangan Francis Fukuyama-kepercayaan merupakan social capital terpenting di masyarakat. Masyarakat yang distrust amat kontraproduktif dengan bangunan masyarakat sipil yang kuat. Realitas dis-integrasi bangsa diperparah dengan lemahnya civil nationalism bangsa sehingga mengakibatkan suburnya semanagat ethno-nationalism di masyarakat. Ethno-nationalism adalah bentuk nasionalisme yang berbasis identitas-identitas primordial, seperti etnis, suku, dan ras. Dalam pengertian yang lebih luas, ethno-nationalism didefinisikan sebagai doktrin yang melekat pada suatu kelompok masyarakat yang merasa memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun prinsip-prinsip hidup tersendiri sehingga mereka merasa perlu memiliki sebuah pemerintahan sendiri. Ethno-nationalism dapat pula dibaca sebagai bentuk hilangnya loyalitas dari suatu kelompok masyarakat tertentu terhadap sebuah ikatan yang lebih besar, yakni bangsa dan Negara Indonesia. Jika fenomena ethno-nationalism berlangsung dalam jangka waktu lama, bukan mustahil bila riwayat hidup NKRI akan berujung pada disintegrasi sebagaimana pernah dialami Uni Soviet.
Dalam menyikapi fenomena itu, pemerintah sedapat mungkin menghindari cara-cara represif. Cara-cara persuasiflah yang seharusnya dikedepankan, misalnya dalam menghadapi gerakan ethno-nationalism yang bertujuan untuk memisahkan diri, maka yang harus dilakukan adalah negosiasi ulang pembagian sumber daya ekonomi daerah. Pendekatan dialogis harus selalu diutamakan dan diusahakan semaksimal mungkin. Selain itu penting pula adanya pengakuan resmi secara konstitusional terhadap berbagai bentuk primordial yang ada bahwa keberadaannya akan memperkaya khazanah identitas nasional bangsa keseluruhan. Pengakuan itu diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dalam diri masing-masing kelompok masyarakat, terlebih yang memiliki potensi ethno-nationalism dan separatisme, bahwa tindakan-tindakan untuk memisahkan dari NKRI dan menjadi Negara tersendiri merupakan hal yang tidak lebih menguntungkan. Dua bentuk fundamentalisme yang sangat mengancam keberadaan NKRI dan perlu diperhatikan dan disikapi oleh kita bersama sebagai pejuang bangsa yang menjadi penerus dari perjuangan para proklamator sumpah pemuda, kedua fundamentalisme itu adalah fundamentalisme kapitalisme global dan fundamentalisme sekteran yang berbasis agama. Fundamentalisme kapitalisme global terus menghantui perekonomian masyarakat Indonesia, pemerintah telah dibuat bertekuk lutut atas sabda kapitalisme ini. Awal dari merasuknya nilai-nilai kapitalisme global dan berujung pada globalisasi kemiskinan. Coba bayangkan angka kemiskinan yang telah dipaparkan kepemerintahan baru-baru ini, kita mungkin akan terus mengelus dada begitu memperhatikan banyaknya angka kenaikan kemiskinan kemarin. Dari globalisasi kemiskinan itu akhirnya banyak golongan yang kemudian membalik fundamentalisme ini menjadi fundamentalis agama yang diusung bersama nilai-nilai kekerasan, kembali mempersoalkan asas pancasila, syariat, hubungan agama dan negara yang ideal, dan mungkin piagam Jakarta yang telah selesai masalahnya pada abad IX dulu. Bukankah itu adalah bentuk-bentuk baru yang banyak mengancam eksistensi pancasila dan NKRI yang telah menjadi rumusan ideal oleh para ulama’, umaro’ dan segenap pemuda Indonesia awal dulu. Jadi inti persoalan sebenarnya bukan pada ideologi bangsa, namun lebih pada kemurnian nilai nasionalisme para penggerak kehidupan bangsa ini, para pejabat sebagai eksekutor amanah rakyat, mahasiswa, LSM, dan rakyat sebagai agen kontrol. Memang sangat besar harapan rakyat pada kabinet pemerintahan saat ini, namun kontrol sosial mahasiswa, rakyat dan semua elemen harus terus bergerak sehingga terjadi kestabilan dan peningkatan yang mengarah pada perbaikan kehidupan berbangsa ini. Akhirnya, Indonesia akan bangkit jika semua elemen mampu menjalankan tanggung jawab masing-masing secara sehat dan progresif. Fungsi kontrol Mahasiswa yang sudah dicatat oleh sejarah tentang gerakan-gerakannya membangun Indonesia, saat ini terus dibangun dan bukan kemudian fungsi tersebut bergeser dalam ranah-ranah pragmatis. Sekali lagi sahabat, Indonesia tidak akan ber “apa-apa“ ketika kita hanya duduk manis membiarkan globalisasi menghegemoni kita, apapun disiplin ilmu yang kita tekuni, sedikit banyak kita harus berbuat untuk Indonesia. Wallahu a’lam bis showab..

Posted in: Artikel