Negara Tuhan

Posted on Oktober 9, 2006


NEGARA TUHAN

Oleh: Khalilur Rahman

Mukadimah

Menilik perspektif historis perkembangan umat manusia dari masa ke masa, perbincangan tentang konsep ideal akan sebuah negara tidak pernah kusam untuk dibahas. Akal sebagai anugerah terbesar Tuhan kepada umat manusia memang memiliki karakteristik yang tidak stagnan dan akan terus mengalami inovasi sejalan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Diawali dengan kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, untuk memenuhi kebutuhannya, manusia membutuhkan orang lain. Jika manusia hidup sendiri, efek negatif yang paling ringan adalah kesepian. Setidaknya kita masih relatif sepakat bahwa saat kata “kesepian” diucapkan, persepsi yang muncul adalah sesuatu yang berkaitan dengan rasa semacam “tidak nyaman”.

Beranjak dari realitas di atas, pada tahap berikutnya yang dibutuhkan adalah aturan main baik tertulis atau tidak yang mengatur relasi antar manusia itu sendiri terkait adanya berbagai kepentingan yang pasti muncul dalam sebuah komunitas yang dihuni banyak manusia. Kebutuhan akan aturan main semacam inilah yang kemudian memunculkan ide adanya sebuah pemerintahan dari lingkup kecil sampai kepada ide adanya sebuah negara.

Ada sekian banyak deretan tokoh, pemikir, dan filsuf dari masa ke masa yang berusaha menuangkan ide dan gagasannya tentang konsep ideal sebuah negara. Mulai dari Plato, Aristoteles, Augustinus, sampai pada para pemikir kontemporer yang pada esensi ide mereka adalah untuk mencari pola-pola ideal untuk membentuk tatanan masyarakat yang harmonis sesuai jamannya. Akan tetapi, kita memang tidak dapat menafikan adanya perbedaan karakteristik dari ide-ide yang mereka kemukakan.

Belakangan ini, muncul fenomena yang sebenarnya tidak baru tentang adanya sebuah kelompok yang berusaha menegakkan syari’at islam dan menjadikannya sebagai landasan ideologi sebuah negara. Melihat fenomena ini, ada baiknya jika melihat kembali pada fenomena sejarah yang terjadi di Romawi sekitar 18 abad yang lalu dimana pada waktu itu terjadi proses pelembagaan gereja menjadi bagian dari konstitusi negara dan bahkan pada masanya sempat memiliki otoritas yang lebih tinggi dari negara.

Seperti saat ini, paradigma kafir dan Kristen (sekarang kafir dan islam) menjadi wacana yang efektif sebagai alat untuk memenangkan pergulatan politik yang terjadi di Romawi pada waktu itu. Kemudian pergulatan ini berakhir dengan kemenangan dipihak Kristen yang dalam hal ini adalah Gereja. Agama-agama kafir warisan nenek moyang berhasil dikikis habis dengan dinobatkannya Agama Kristen sebagai agama resmi negara Romawi pada waktu itu, sehingga tak satupun penduduk Romawi yang tidak menganut agama Kristen walaupun kadar keimannya masih patut dipertanyakan.

Menjelang abad ke-IV masehi, kekaisaran Romawi pecah menjadi dua, yaitu barat dan timur. Perpecahan ini pada akhirnya menimbulkan kesenjangan yang besar terhadap pola hidup kedua wilayah termasuk dalam pola hidup keagamaan. Kemudian pada tahun 410 M, terjadi penyerangan terhadap kekaisaran Romawi Barat oleh Bangsa Goth Barat yang mengakibatkan runtuhnya kekaisaran Romawi Barat. Hal ini menimbulkan gejolak dikalangan orang kafir yang notabene belum sepenuhnya menerima kehadiran agama Kristen. Mereka menuduh agama Kristen sebagai penyebab keruntuhan Romawi karena sudah melupakan dan bahkan mengkhianati dewa-dewa yang sudah turun temurun disembah bangsa Romawi. Para dewa marah dan mengutuk bangsa Romawi.

Dalam situasi yang kacau tersebut, seorang pemikir, filsuf sekaligus teolog yang tampil dan mengemukakan gagasannya tentang sebuah negara bernama Augustinus[1] dengan menulis sebuah buku berjudul De Civitate Dei (The City of God)[2]. Walaupun pada awalnya buku ini ditulis untuk menanggapi tuduhan orang-orang kafir terhadap Kristen, akan tetapi beberapa ide dan gagasan didalamnya sepertinya perlu kita telaah bersama terutama untuk mempertimbangkan kondisi saat ini.

Dalam salah satu rentetan bukunya, Augustinus mengemukakan ide tentang dua negara, yaitu negara Allah (civitas dei) yang sering juga disebutnya negara syurgawi dan negara sekuler (civitas terrena/negara duniawi) atau yang sering juga disebutnya negara diaboli[3]. Negara yang paling baik dan oleh sebab itu harus senantiasa diupayakan perwujudannya adalah negaraAllah. Negara sekuler adalah negara yang buruk dan oleh sebab itu tidak layak menjadi dambaan umat manusia.

Negara Allah (Civitas Dei) dan Negara Sekuler (Civitas Terrena)

Kehidupan di dalam negara Allah diwarnai oleh iman, ketaatan, dan kasih Allah. Negara Allah menghargai segala sesuatu yang baik seperti kejujuran, keadilan, keluhuran budi, kesetiaan, moralitas yang terpuji, keindahan, dan lain-lain sebagainya. Negara sekuler diwarnai oleh dosa, keangkuhan, dan cinta yang egois. Negara sekuler merupakan manifestasi dari ketidakjujuran, pengumbaran hawa nafsu, ketidakadilan, pengkhianatan, kebobrokan moral, keburukan, kemaksiatan, kejahatan, dan lain-lain sebagainya.

Kalau kita lihat, gagasan negara Allah Augustinus ini merupakan penjelmaan gagasan negara ideal Plato. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena Augustinus semasa hidupnya memang tertarik pada filsafat neo-platonisme. Sama seperti negara ideal Plato, negara Allah Augustinus dipenuhi dengan segala kebajikan, kedamaian dan keselarasan.

Pada dasarnya, kedua negara itu dibangun berdasarkan dua jenis cinta, negara syurgawi dibangun atas dasar cinta Allah sedangkan negara sekuler dibangun atas dasar cinta diri. Oleh karenanya, negara syurgawi akan senantiasa mengupayakan segala sesuatu yang baik demi kemuliaan Allah, sedangkan negara sekuler akan cenderung untuk mengejar kemuliaan bagi diri sendiri.

Dalam negara sekuler, ada beberapa karakteristik yang sekaligus menjadi permasalahan didalamnya, yaitu: konflik dan perdamaian[4], rakus akan kekuasaan, ketidakadilan dalam pengadilan, ketidakpatuhan, keangkuhan, perbudakan, penyembahan dewa dewi yang tak berdaya, kejahatan dan kekejaman. Sedangkan karakteristik dalam negara Allah adalah teokrasi, keadilan sebagai dasar negara, kepatuhan, kebebasan dan kesamaan hak, penguasa selaku pelayan dan pengabdi, dan kebahagiaan sejati para penguasa[5].

Menurut Augustinus, kendatipun hidup di dalam kedua negara itu berbeda, bahkan saling bertentangan satu dan lainnya, namun didalam praktek, keduanya sulit dipisahkan. Itu berarti bahwa kedua-duanya senantiasa berada dan hadir bersama. Tetapi bagaimana mungkin dua macam negara yang saling bertentangan dapat berada dan hadir bersama? Hal itu tidak mungkin bila kedua macam negara itu diinterpretasikan sebagai dua bentuk lembaga atau organisasi yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu, tidak benar apabila dikatakan yang dimaksudkan Augustinus dengan negara Allah adalah Gereja dan negara sekuler adalah organisasi negara seperti kekaisaran Romawi dan lain-lain.

Sebagai seorang filsuf dan teolog, Augustinus tidak mempersoalkan masalah-masalah praktis organisasi negara atau organisasi Gereja. Ia sebenarnya, lebih tertarik mempercakapkan soal cara hidup (way of life), dan prinsip-prinsip hidup (principles of life). Oleh sebab itu, gagasan Augustinus tentang negara Allah dan negara sekuler, tidak teracu kepada bentuk-bentuk organisasi tertentu, melainkan yang terutama agar orang-orang mengenal dan mempraktikkan prinsip-prinsip yang terdapat didalam agama Allah dan agar orang-orang mengenal lalu menolak prinsip-prinsip yang terdapat dalam negara duniawi. Dalam hal ini, Augustinus hanya menggemakan kembali pendapat Plato tentang eksistensi negara ideal yang dikatakannya:

…. saya tidak memikirkan ia (negara ideal) berada dimanapun juga di muka bumi … di kayangan, barangkali, sebuah pola dari negara itu disimpan bagi dia yang memiliki mata untuk melihat … Persoalannya sama sekali bukan apakah negara itu ada dimana saja atau akan berada; melainkan agar prinsip-prinsipnya dipraktikkan, itu saja.

Jelas terlihat bahwa gagasan Augustinus tentang negara Allah telah mengubah idealisme Plato menjadi Idealisme Kristen. Namun idealisme semacam itu memang diperlukan Augustinus saat itu, karena diatas landasan idealisme Kristen yang platonis itulah Augustinus memperoleh dasar yang kuat untuk melancarkan kecaman-kecamannya terhadap pemikiran-pemikiran politik-religius kafir yang mempersalahkan kekristenan sebagai penyebab kemunduran dan keruntuhan kekaisaran Romawi.

Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini? Akan banyak sekali muncul interpretasi ideal untuk menjawab realitas yang terjadi di Indonesia. Yang dibutuhkan adalah identifikasi kerangka pemikiran serta kesamaan visi dan misi agar kedamaian dan kebajikan di bumi Indonesia dapat diraih dengan harmonis. Sehingga interaksi yang bersifat hujatan atau tuduhan dapat dihindari dan digantikan dengan proses-proses yang lebih damai dan mendidik. Wallahu A’lam Bisshowab.


[1] Augustinus adalah seorang Profesor dalam bidang retorika, seorang imam dan seorang uskup di Hippo Romawi Timur.

[2] Buku ini ditulis selama lima belas tahun dan terdiri dari dua puluh dua buku yang meliputi bidang-bidang filsafat politik, filsafat sejarah, filsafat agama, etika, dan teologia.

[3] Diaboli berasal dari kata Yunani “diabolos” yang berarti pengkhianat, iblis, setan dan sebagainya. Jadi negara diaboli berarti negara yang mengkhianati hakikatnya atau negara setan.

[4] negara sekuler juga menginginkan kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan, akan tetapi bukan kedamaian abadi seperti didalam negara Allah. Kedamaian dalam negara sekuler lebih bersifat duniawi dan egois sehingga memberi peluang besar akan timbulnya konflik karena kepentingan individu atau kelompok.

[5] Kebahagiaan sejati mereka karena berbuat baik semasa berkuasa dan terletak pada pelayanan dan pengabdian mereka yang benar-benar terarah bagi hormat dan kemuliaan Allah, bukan karena memerintah yang lama, mati dalam damai sejahtera atau memiliki putra-putra yang cakap untuk menggantikannya.

Posted in: Artikel