New context, new paradigm

Posted on Desember 6, 2010

1


Setiap gerakan selalu berpijak dalam suatu konstruksi realitas social tertentu. Tidak ahistoris dan karenanya material. Hukum ini menunjukkan bahwa GM tidak terlepas dari teks-teks social lain termasuk the dominant ideology yang bekerja, social forces (motor penggerak), yang kesemuanya dapat disederhanakan dalam sebutan formasi social masyarakat. Pada sisi lain kita tahu formasi social selalu mengalami pergeseran, yang berimplikasi pada  keharusan melakukan reparadigmatisasi gerakan. Dengan kacamata ini sekilas saja nampak bahwa sekarang telah terjadi transformasi besar-besaran peran politik negara. Formasi social era Soeharto berbeda dengan formasi social sekarang. Karenanya GM era Orba yang target politiknya mendelegitimasi negara atau mendekonstruksi negara yang otoritarian-birokratik menjadi kehilangan konteks alias kurang relevan lagi. Apakah kemudian dibalikkan menjadi memperkuat negara? Inilah satu perdebatan penting yang harus dielaborasi.
Sebagai  pembuka wacana, akan dielaborasi debat seputar globalisasi dan neoliberalisme.
Globalisasi. Istilah yang memiliki sekian arti dan makna. Secara paradigmatik, pandangan tentang globalisasi dapat dibedakan dalam tiga paradigma besar (David Held, et al, 1998). Paradigma pertama, skeptis, yang dianut kaum kiri, melihat globalisasi hanya akan menuai kegagalan dalam mewujudkan trasnformasi sosial berkeadilan. Paradigma kedua, optimistik, yang dianut kaum neolib, hiperglobaliser, atau hiperlib, melihat globalisasi sebagai jawaban terang benderang atas  masa depan ekonomi politik global. Paradigma ketiga, transformasional, yang masih melihat sekian kemungkinan masa depan globalisasi, mulai ayunan yang skeptik sampai  ayunan optimistik. Semua kemungkinan tersebut, amat tergantung pada sekian variabel yang tidak bisa direduksikan begitu saja dalam satu faktor dominan.
Karena itu, tulisan ini akan melihat globalisasi secara, katakanlah, akademik,  dengan tidak tergesa-gesa mengambil posisi ideologis sebelum mengelaborasi secara komprehensif sekian perspektif tentang globalisasi. Sebab, seperti disebut di atas, globalisasi dimaknai secara berbeda-beda, kadang pararel, kadang bahkan berbenturan.

Steger (2002: 13) membedakan istilah globalisasi dan globalisme. Globalisasi adalah proses material dan sosial yang didefinisikan oleh berbagai kalangan secara berbeda-beda. Sementara globalisme lebih merupakan ideologi pasar neoliberal yang memberikan norma, nilai dan makna-makna tertentu terhadap proses globalisasi itu. Sebagai ideologi, globalisme tidak hanya memberikan deskripsi, tetapi juga preskripsi (Petras & Veltmeyer, 2001: 11).
Globalisme memiliki tiga ciri khas (Ricoeur, 1986), yakni distorsi, legitimasi, dan integrasi. Globalisme memberikan gambaran atas realitas sosial yang telah mengalami proses konstruksi, distorsi dan simplifikasi, sehingga  realitas yang distrukturkan olehnya pada level sosial dapat berkembang menjadi sebentuk  kesadaran palsu. Melalui sistem legitimasi, globalisme memiliki mekanisme pengabsahan atas berbagai kerangka pemikiran dan acuan tindakan yang diajukannya. Dan akhirnya, globalisme memiliki fungsi integratif, yakni menyediakan serangkaian simbol, norma dan citra yang menghimpun dan merekatkan identitas individu ke dalam lingkungan kolektif.
Untuk menghantarkan analisis lebih jauh tentang tendensi-tendensi ideologis globalisme sebagai proses ideasional, akan dinarasikan terlebih dahulu beberapa persoalan utama dalam diskursus globalisasi sebagai proses material (Skema dan struktur pemetaan uraian ini banyak merujuk karya Manfred B. Steger, Globalism: The New Market Ideology, 2002).