ROMANTISME NAIF GAYA Ahlusunnah Waljama’ah

Posted on Desember 6, 2010

0


Tantangan keberagaman saat ini memasuki babak baru. Kalau pada beberapa dekade yang lalu umat beragama masih berkutat untuk saling membuktikan bahwa agamanya yang paling benar dan agama orang lain salah, maka keberagamaan saat ini sudah melampui klaim benar-salah tersebut. Orang tidak ingin lagi terjebak pada truth claim yang dalam sejarah kemanusiaan ternyata melahirkan kekerasan dan penistaan kemanusiaan yang hampir-hampir tidak bisa di nalar oleh logika agama itu sendiri. dalam arti bahwa agama  yang dalam dirinya memuat nilai-nilai luhur penghormatan nilai-nilai kemanusia–agama untuk manusia-ternyata seringkali menampilkan wajah yang sebaliknya.
Kesadaran inilah yang saya kira membuat kita juga merasa legitimate untuk menilai ulang doktrin Ahlusunnah Waljama’ah  yang sekian lama selalu dijadikan ukuran bahkan untuk menilai kebenaran dan kesalahan seseorang atau kelompok dalam ber-islam. Berkaitan dengan  ini pula, seluruh tantangan–tantangan kemanusiaan yang datang dan menantang di depan mata kita hendak kita benturkan dengan konsep Ahlusunnah Waljama’ah. Seperti yang ditulis oleh Gus Mus, bahwa keresahan yang bernada tuntutan tidak lagi bisa dibendung. Petanyaan itu misalnya bagaimana sikap Ahlusunnah Waljama’ah dalam kehidupan sehari-hari, dalam pergaulan sosial, dalam politik, ekonomi, budaya, dsb? Pembicaraan kita kali ini juga berada diatas rel yang sama dengan tuntutan–tuntutan di atas. Topik “Ahlusunnah Waljama’ah sebagai Manhajul al-Fikr & al-Harakah dalam perspektif sosial, budaya, HAM dan lingkungan” adalah sebuah topik yanghendak menuntut Ahlusunnah Waljama’ah untuk menjawab problem–problem kemanusiaan kontemporer yang kurang–lebih adalah poin–poin tersebut.
Akan tetapi, sebelum kita melanjutkan upaya untuk menjawab tuntutan tersebut, yang perlu kita pertanyakan adalah apakah tuntutan tersebut proporsional atau nyinyir?  Barang kali justru pertanyaan inilah yang perlu kita selesaikan dulu. Jangan – jangan tuntutan ini semacam sikap romantis yang terlanjur mengidealisasi Ahlusunnah Waljama’ah sebagai pusat kebeanaran dalam ber–islam sehingga seluruh problem kemanusiaan harus bisa dijelaskan dalam kerangka Ahlusunnah Waljama’ah –Aswaja mania. Kalu memmang ya. Lau, apa bedanya kita dengan para apolog muslim naif yang terus berkoar –koar bahwa seluruh persoalan telah tuntas di jawab oleh Al-Quran sambil menuntut semua orang untuk mengikutinya.  Sebuah sikap yang ujung –ujungnya anti toleran, anti pluralitas dan menista HAM. Kalu kita justru terjebak disini, tentu sebuah ironi karana toleransi, penegakan HAM dan liberasi adalah sebuah idealita yang hendak kita perjuangkan.

Ahlusunnah Waljama’ah: Relasi Kuasa “We” dan “Other”
Pertanyaan pertama yang patut kita lontarkan disini adalah apakah benar–benar ada Ahlusunnah Waljama’ah dan non –Ahlusunnah Waljama’ah. apakah kolompok non-Ahlusunnah Waljama’ah yang diidentifikasi selama ini sesuai dengan direpesentasikan oleh kelompok Ahlusunnah Waljama’ah? pertanyaan ini sesungguhnya mengandaikan bahwa pencitraan yang dilakukan oleh kelompok Ahlusunnah Waljama’ah adalah sebuah konsep yang diturunkan dari kajian akademis, tapi juga kumpulan imagi–imagi tentang kelompok yang sesat .Di dalam Ahlusunnah Waljama’ah berkumpul sejumlah kode, vocubulari serta praangapan–praanggapan yang menjadi teks pengikat terhadap siapa saja yang hendak melihat dan menilai apa yang disebut sebagai kelompok non Ahlusunnah Waljama’ah. Ahlusunnah Waljama’ah tidak berurusan dengan kesesuaian klaim–klaimnya dengan kenyataan yang ada, tapi berurusan dengan konsistensi internal dengan ide-idenya tentang kelompok non Ahlusunnah Waljama’ah yang sesat tanpa harus beruruasan dengan realitas yang sesungguhnya.
Terdapat obyek khas yang hanya diciptakan pikiran sehingga obyek yang sebenarnya fiktif berubah memperoleh status obyektif. Sekelompok orang yang hidup di tempat tertentu akan menciptakan batas-batas antara tanah tempat tinggal mereka dengan batas tanah luarnya. Dengan kata lain, praktek universal untuk menyuguhkan kepada pikiran sendiri untuk suatu ruang yang akrab yang disebut “daerah kita“ (we) dengan ruang lain yang lain yang asing yang disebut “daerah mereka” (other) adalah suatu cara untuk menciptakan pembedaan-pembedaan yang sepenuhnya bersifat arbriter. Bersifat arbriter karena perbedaan antara ”kita” dengan “mereka” tidak mensyaratkan pengakuan “mereka” terhadap pembedaan tersebut. Cukup bagi “kita” untuk menentukan pembedaan dalam pikiran dan”mereka” menjadi “mereka” dengan sendirinya dan baik wilayah maupun status mentalitasnya (ajaranya) ditetapkan sebagai berbeda dengan wilayah dan mentalitas (ajaran) “kita” pembedaan ini kemudian disertai dengan berbagai ragam stereotype. Dengan pembedaan ini, segala macam dugaan, asosiasi dan imajinasi tampak memenuhi “yang lain” tersebut .
Filosof perancis, Baston Bachelard, pernah menulis suatu analisis tentang apa yang disebutnya sebagai puisi ruang. Sebuah ruang obyektif–sudut, gang, kamar, loteng, dsb–jauh tidak penting dari pada apa yang di isikan dan dikenal kepadanya secara imajinatif. Ruang dalam sebuah rumah misalnya, memperoleh suasana keakraban, kerahasiaan atau keamanan disebabkan karena pengalaman–pengalaman yang mengisi ruang tersebut. Dengan demikian, ruang tersebut menjadi teduh, menyeramkan atau bagaikan penjara bukan karena realitas obyektif, tapi karena pelabelan secara imajinatif. Inilah rasio Ahlusunnah Waljama’ah ketika ia memberi nilai dan arti atas non Ahlusunnah Waljama’ah sebagai “The Other” pada ahirnya, proses ini menjadi teks baku dengan apa setiap orang sunni harus melewati jaring–jaring kode ini. Kebenaran ditentukan dari penilaian intelek yang sudah terbentuk sebelumnya, bukandari materinya sendiri. istilah “bukan aswaja “ ahirnya adalah sebuah panggung yang memberi batas–batas kepada seluruh kelompok di luarnya yang jati diri dan peranannya telah ditentukan dalam imajinasi Ahlusunnah Waljama’ah.
Ahlusunnah Waljama’ah sebagai Discursive Practice
Dalam perspektif Cultur studies, keapaan “yang lain” (other) selalu bergantung bagaimana ia di presentasikan oleh sebuah wacana dominan Cultural studies yang mengusung semangat anti-esensialisme, menolak seluruh klaim-klaim hitam putih untuk mengesensialisasi realitas. Realitas adalah representasi. Ia di tambakan sebagai saputan kuas dan kerangka wacana dominan yang menjadi titik sumbu dalam perebutan makna. Representasi ini di lakukan dalam rangka untuk mendefinisikan diri, membekukan identitas diri. Kebutuhan untuk menentukan identitas inilah yang kemudian melahirkan upaya untuk mencipta dan mendefinisikan yang lain ( other ).
Jadi, identitas kita (we) selalu di bangun untuk mengeksklusikan yang lain (other). Yang lain ( other) dipresentasikan sebagai negatip untuk di perlawankan dengan kita ( we ) yang positif. Yang lain salah dan kita adalah benar. Yang lain menyimpang dan kita adalah normal. Inilah yang di sebut dengan the idea of constitutive othernes, yaitu bahwa kelainan itu di cipta, didefinisikan, dipresentasikan untuk melayani identifikasi dan pengukuhan kita sebagai yang baik, benar, standar, normal, waras, dan segala atribut yang baik-baik. Keseluruhan prakter-praktek ini adalah apa yang di sebut dengan discursive practice (praktek wacana ). Sebuah wacana yang mengrung wacana lain untuk tetap menjadi pinggiran sehingga ia bisa selalu dipersalahkan dalam rangka melayani kepentingan wacana dominan yang menjadi titik sumbu seluruh relasi kuasa ( power relation ) yang di bangun di atasnya. Tidak perlu heran bahwa Michel Foucalt mengatakan bahwa wacana berjalin berkelindan dengan kekuasaan?
“Gugatan” ini juga kita arahkan pada upaya pendefinisian ulang yang dilakukan oleh said Agil Siraj tentang Ahlusunnah Waljama’ah sebagai manhaj Al-Qur’an-Fikr. Menurutnya, Ahlusunnah Waljama’ah adalah “cara berfikir dalam memahami agama yang meletakkan aspek tawassuth, tasamukh, (tawazun, red) sebagai pijakan dalam mencari jalan tengah.” Dari manakah manhaj ini diturunkan?. Teologi, fiqih,dan tasawuf yang selama ini diklaim sebagai sunni yang manakah yang kemudian bisa di-breakdown menjadi manhaj seperti itu? Kalau Said Agil Siraj menurunkan konsep manhaj-nya dari pemikiran Abu Hanifah, lalu bagaimana dengan pikiran tokoh-tokoh lain? Asy’ary, misalnya, dari sisi mana kita bisa menurunkannya menjadi manhaj dalam melayani kebutuhan kita saat ini. Yang justru bisa kita ambil darinya upaya decemering terhadap grand narative Mu’tazilah. Akan tetapi, ini berarti juga akan membawa kita untuk mengambil semangat yang sama dari Syiah dan khowaarij misalnya, bahkan dari seluruh kelompok yang melakukan  decentering terhadap narasi besar, tidak peduli sekte dan agama apapun. Kalau seperti ini, maka di manakah manhaj tawassuth, tasamuhk, dan tawazun yang digagas oleh said Agil Syiraj karena manhaj  ini dirumuskan salah satunya dengan salah satu sentra persaingan antara Asy’ariyah dengan Mu’tazilah adalah masalah posisi rasionalitas dalam proses pemahaman atas wahyu. Dari sini, wacana Ahlusunnah Waljama’ah kemudian meminggirkan sisi rasionalitas secara sistematis dengan membunuh filsafat. Tidak lagi menjadi persoalan apakah sistem teologi Mu’tazilah dibangun diatas landasan rasionalitas sedang Asy’ariyah tidak. Masalah utama adalah kalim. Penyingkiran rasionalitas inilah yang kemudian menggiring diadopsinya sistem tasawuf Al-ghozali dan junaid Al-Qur’an Bagdadi, dan tidak akan pernah menoleh kewilayah tasawuf falsafi. Dari sini kemudian Ahlusunnah Waljama’ah sering kali disinonimkan dengan tradisi keislaman ulama salaf  (ahl Al-Qur’an-Hadits yang “tidak menggunakan”akal dalam memahami Al-Qur’an ) dengan ulama kholaf (ahl Al-Qur’an-Ra’y yang menjadikan rasio sebagai instrumen untuk memahami Al-Qur’an ). Dengan cara yang sama, pemilihan empat imam mazhab sebagai sunni juga menggambarkan strstegi pewacanaan yang dilakukan oleh graand narative  dalam meminggirkan wacana-wacana kecil.
Dari sinilah Aswaj kemudian penentu yang menghakimi wacana lain diluarnya. Melalui kekuatan narativenya sunni meresaf dalam sistem kekuasaan, imajinasi dan kesadaran orang sebagai centre of truth, Ahlusunnah Waljama’ah kemudian memproduksi aturan-aturan menurut caranya sendiri. Ahlusunnah Waljama’ah mendudukkan diri sebagai hakim atas setiap wacana yang ada diluarnya. Ia memvonis yang lain sebagai keluar dari main stream kebenaran.
Sampai disini semakin terliahat bahwa seluruh perbincangan teentang Ahlusunnah Waljama’ah hanya  sebuah romantisme naif karena memganggap bahawa Ahlusunnah Waljama’ah adalah sebuah wacanayang mutlak ideal, maka kita berusaha terus-menerus untuk mengangkatnya sekalipun yang kita temui adalah ironi-ironi ibarat sisiffus yang terus-menerus mendorong batu kepuncak gunung sekalipun setiap kali sampai puncak setiap kali itu juga dia akan meluncur kedasar jurang. Salah-salah kita terjebak pada retorika gaya Islam modernis yang selalu berusaha selalu mencari orisinilitas sambil berteriak-teriak  tahayyul, bid’ah, dan  khurafat. Bisa saja ini terjadi karena didalam istilah Ahlusunnah Waljama’ah secara samar-samar terlihat imajinasi ke arah pencarian orisinalitas ini sambil menuduh seluruh orang yang berada di luarnya sebagai kelompok yang tidak selamat . konsekwensi ini bisa terjadi baik rumusan Ahlusunnah Waljama’ah sebagai isi/dogma maupun sebagai manhaj.

Tak Perlu Stempel Ahlusunnah Waljama’ah
Akan lebih sehat bagi kita untuk menjawab tantangan-tantngan masa ini tanpa harus dibebani dengan referensi sejarah masa lalu, apa lagi kalau refrensi itu berupa penjara. Dalam arti bahwa apakah kita memiliki kesadaran sebagai sunni ataukah tidak, semangat toleransi, penghormatan terhadap HAM dan upaya-upaya liberassi adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan kesetaraan gender, demokrasi dengan tanpa membedakan kewarganegaraan seseorang berdasarkan agamanya, dialog antaragama tidak harus selalu dicarikan referensi kepada Ahlusunnah Waljama’ah.
Kepada fiqh sunni manakah, baik isi maupun manhaj kita akan mencari  rujukan terhadap perjuangan kita akan tegaknya kesamaan hak dan kewajiban warga negara dalam sebuah negara demokrasi? Kepada fiqih sunni yang manakah , baik isi maupun manhaj, yang akan kita jadikan rujukan bagi perjuangan kesetaraan gender. Terhadap sistem teologi yang manakah, baik isi maupun  manhaj, yang akan kita jadikan rujukan dalam melayani semangat-semangat kemanusiaan yang diilhami oleh teologi pembebasan? Bukankah isu -isu kemanusiaan ini yang justru menjadi concern kita saat ini?
Yang perlu bagi kita adalah bagaimana keberagaman kita melahirkan semangat untuk semakin menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan tanpa mempedulikan kelompok, etnis dan agamanya. Semangat ini adalah toleransi, pluralitas, HAM, demmokrasi, lingkungan hidup, dsb. Inilah yang lebih mendesak untuk kita  carikan rumusannya dalam sinaran keberagaman kita dalam menegakkan HAM, demokrasi, toleransi, pluralitas, dsb, tiba-tiba kita menmemukannya sama sekali berbeda dengan Ahlusunnah Waljama’ah, baik isi  maupun manhaj , ya tidak masalah. Kalau rumusan kita tidak diakui sebagai Ahlusunnah Waljama’ah, tidak usah berkecil hati karena memang tidak ada kewajiban untuk mendapatkan stempel benar dari Ahlusunnah Waljama’ah untuk memperjuangkan ini semua. Inul saja tidak berkepentingan  untuk mendapat stempel halal di pantatnya  dari MUI.