GAGASAN-GAGASAN DALAM TULISAN SARTONO KARTODIRJO “GOTONG ROYONG” DAN DAVID RADCLIFFE “KI HAJAR DEWANTARA DAN TAMAN SISWA”

Posted on Desember 12, 2010

1


Oleh : Imam Syafi’i

Indonesia adalah Negara yang memiliki berbagai macam budaya (Sara). Hal ini telah membuat Negara ini menjadi sebuah Negara yang sangat majemuk. Berbagai macam budaya ini telah menjadi ruh dalam setiap kehidupan masyarakat Indonesia di setiap wilayah-wilayahnya yang berbeda-beda. Setiap budaya yang terdapat di daerah-daerah di Indonesia ini, sampai saat ini selalu berusaha tetap menunjukkan eksistensinya. Berupaya memperlihatkan segala bentuk ekspresinya oleh mereka yang menciptakannya. Hal ini dilakukan untuk melawan segala macam perubahan ditengah derasnya arus globalisasi yang mungkin akan menghancurkan kebudayaan tersebut. Arus globalisasi ini merupakan dampak dari meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi oleh manusia. Hal ini membuat arus informasi dan komunikasi semakin mudah didapatkan. Mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat yang lain juga semakin mudah dilakukan. Dilihat dari prespektif budaya, dampak globalisasi nantinya akan bermuara pada proses bertemunya budaya-budaya yang berbeda. Hal ini memiliki akan memunculkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama berdampak positif, yaitu kebudayaan yang berbeda itu—tanpa saling menghilangkan nilai-nilai budaya masing-masing, akan melakukan suatu proses akulturasi. Kemungkinan yang kedua akan berdampak negatif, yaitu budaya yang satu akan mengancurkan nilai-nilai budaya yang lain. Selanjutnya Hal ini akan menciptakan dua budaya—terutama budaya lokal atau penerima—yang berbeda, yaitu budaya aktif atau adaptif dan budaya pasif. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi kebudayaan yang ada di Indonesia berusaha menjadi ruh bagi masyarakatnya di tengah arus globalisasi, kita dapat menganalisis tulisan dari Sartono Kartodirjo yang berjudul “Gotong Royong: Saling menolong dalam pembangunan masyarakat Indonesia” dan “Ki Hajar Dewantara dan Sekolah Taman Siswa” oleh David Radcliffe.

Gagasan-gagasan yang terdapat dalam tulisan Sartono Kartodirjo tersebut adalah mengutamakan tentang prinsip “gotong royong” yang terdapat dalam masyarakat Indonesia. Salah satu bentuk ekspresi kebudayaan yang menjadi ciri khas dari masyarakat agraris tradisional. Gotong royong merupakan suatu bentuk saling menolong yang berlaku di desa-desa di Indonesia terutama masyarakat agraris tradisional (Kartodirjo dalam Colletta dan Kayam, 1987 :254-271). Dalam gotong royong ini masyarakat-masyarakat terikat satu sama lain berdasarkan relasi sosial yang disebut ikatan primordial, yaitu lewat ikatan keluarga, dekatnya letak geografis serta iman kepercayaan. Selanjutnya, ini menjadi suatu solidaritas yang mekanis yang terintegrasi secara struktural yang menjadikan pertukaran sosial berlangsung terbatas karena anggotanya bersifat homogen dalam mentalitas dan moralitas serta mempunyai suatu kesadaran kolektif dan iman kepercayaan bersama. Namun perbedaan fungsi atau pembagian kerjanya sedikit sekali. Jika muncul fungsi yang baru dan berbeda kebudayaan gotong royong dalam masyarakat Indonesia telah membuat satu kesatuan yang utuh dan menjadi masyarakat yang terintegrasi secara fungsional. Sebagai manifestasi solidaritas sosial yang sangat tinggi yang didasari oleh moralitas, rasa bersatu, dan konsensus umum gotong royong menjadi sebuah potensi yang menguntungkan untuk roda pembangunan daerah. Solidaritas dalam gotong royong masyarakat telah memunculkan relasi-relasi antar individu di dalam keluarga maupun antar masyarakat untuk saling bekerja sama secara ekonomis, sosial dan politik. Konsep gotong royong dalam masyarakat tradisional yang memunculkan solidaritas sosial memiliki berbagai macam bentuk, diantaranya : a. Dalam masyarakat agraris tradisional, terkadang melakukan pertukaran tanah dengan tenaga kerja. b. Pancen yaitu bantuan tenaga kerja yang siap bagi kepala desa. c. Gugur Gunung yaitu suatu pekerjaan secara bersama-sama tanpa dibayar. d. Punjungan yaitu memberi bantuan atau hadiah, menukarkan barang dengan barang. Di dalam tulisan David Radcliffe tentang Ki Hajar Dewantara dan taman siswa, Kebudayaan diposisikan sebagai hal yang utama dalam membangun sistem pendidikan Nasional yaitu dengan sistem among. Sistem ini memiliki pengertian membangun pendidikan di sekeliling anak, dengan secara maksimum memanfaatkan nalurinya untuk mendidik diri (Dewantara dalam Colletta dan Kayam, 1987 : 207). Akan tetapi sistem ini tidak berarti sepenuhnya mengabaikan kebudayaan yang diberikan taman siswa, namun tetap mengandung arti persatuan yang hakiki dalam kebudayaan Indonesia. Pendidikan yang mencoba dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah mengembangkan potensi anak yang memiliki keunikan. Berlandaskan seperti itu bahwa pendidikan bangsa juga yang harus dilandaskan pada kebudayaannya yang unik. Dari pemikiran seperti itu diharapka anak akam merasa mendapatkan kemerdekaan dalam mengembangkan intelektualnya sehingga nantinya akan mengusahakan kemerdekaan nasional. Ki Hajar Dewantara memandang kebudayaan haruslah adaptif. Beliau beranggapan bahwa kebudayaan tidak akan pernah maju andaikata selalu menutup diri atau pasif. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa pergaulan dengan orang asing merupakan jalan menuju kemajuan budaya. Akan tetapi semua itu harus mengikuti petunjuk-petunjuk trikon “kesinambungan dengan kebudayaan sendiri, konvergensi atau penemuan titik persatuan dengan dunia luar, serta persatuan yang konsentris”. Diantara ketiga isi trikon di atas, yang paling mendapat perhatian Ki Hajar adalah konvergensi. Hal ini dipandang sebagai kekuatan yang mempertemukan timur dan barat, serta akan menjadi kekuatan yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang memilki keragaman bahasa, dialek, agama serta sub-budaya lainnya. Ki Hajar berharap keunikan budaya yang dimiliki Indonesia akan menjadi dasar untuk melakukan pendidikan nasional. Kebudayaan yang membawa individu-individu ke dalam komunitas dan membawa komunitas ke dalam masyarakat dunia yang lebih luas. Membentuk kerangka dasar untuk menciptakan organisasi sosial yang harus menyadari bahwa semua adalah bagian dari Supra stuktur. Satu sama lain saling berkaitan dan harus selalu bekerja sama berdasarkan prinsip gotong royong dan kekeluargaan. Dapat disimpulkan dari gagasan-gagasan dalam tulisan tersebut adalah kebudayaan Indonesia berdasarkan prinsip gotong royong, rasa kekeluargaan dan kerja sama tanpa pamrih. Kebudayaan yang memiliki kesadaran sebagai bagian dari supra stuktur. Namun apa yang terjadi apabila hal itu dibenturkan dengan pengaruh Asing? Kedatangan bangsa barat ke wilayah timur pada masa imperialisme dan kolonialisme yang diikuti dengan proses westerenisasi telah membawa suatu ancaman baru tehadap eksistensi budaya gotong royong tersebut. Sistem barat yang bersifat eksploitatif dan menekankan terhadap pembagian kerja yang jelas dan detail telah membuat hakekat gotong royong semakin berkurang. Hal ini disebabkan pembagian kerja yang lebih detail itu akan membuat individu semakin materialistis. Selain itu, budaya asing (barat), terkadang tidak sesuai dengan konsepsi kebudayaan timur. Akan tetapi kita juga harus bisa lebih pintar menghadapi serbuan budaya barat. Tidak selamanya budaya asing itu akan membuat budaya kita rusak—walaupun terkadang kita sadari atau tidak, sebenarnya kita yang terjebak pada westerenisasi itu. Lebih memilih budaya barat walupun tidak sesuai daripada budaya sendiri. Ki Hajar Dewantara telah menyebutkan bahwa konvergensi merupakan jalan awal menuju kemajuan budaya. Akan tetapi yang perlu di ingat adalah bagaimana kita memilih budaya asing yang sesuai dengan kita. Menyaring budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia yang selanjutnya untuk dijadikan sebagai usaha awal menambah koleksi kebudayaan kita. Bagaimana kondisi kebudayaan itu saat ini, saat globalisasi semakin deras? Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini yang semakin pesat akan berdampak semakin kencangnya arus globalisasi. Hal ini telah menyebabkan arus informasi, komunikasi dan mobilitas masyarakat semakin mudah. Perbenturan budaya akan menjadi tidak terhindarkan. Globalisasi ini telah membuat perubahan yang sangat besar tidak hanya di daerah perkotaan akan tetapi juga ke wilayah pedesaaan. Perubahan masyarakat tradisional ke modern, perubahan masyarakat agraris menjadi masyarakat industrialis. Masyarakat tradisional mulai meninggalkan nilai-nilai tradisi yang dianggap tidak masuk akal. Hal ini dikarenakan peralihan ke masyarakat modern membuat masyarakat tersebut berfikir rasional. Selanjutnya perubahan ini akan berdampak terhadap perubahan tatanan sosial masyarakat tradisional karena adanya “culture shock”. Saat ini kita mulai jarang menjumpai tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang terkandung akibat dari moderenisasi. Salah satu diantaranya adalah semangat gotong royong. Masyarakat industrialis telah berubah menjadi materialis dan individulis. Namun keadaan ini, kita tidak bisa untuk menyamaratakannya. Masih ada daerah-daerah yang mampu bertahan dari arus globalisasi dan masih mempertahankan nilai-nilai tradisi itu. Sejak mulai dikenalnya wilayah Indonesia (Nusantara) oleh Negara-negara luar, proses pertemuan antar budaya-budaya telah terjadi. Akan tetapi, budaya lokal atau yang biasa disebut kearifan lokal selalu berperan penting memunculkan proses akulturasi. Nilai-nilai tradisi selalu dipertahankan dan mencoba disempurnakan dengan budaya asing. Ataupun saat posisi pelaku budaya itu sedang diluar komunitasnya (merantau), mereka akan mencoba membangun informasi baru itu dengan budaya ibunya saat mereka pulang (lihat Usman Pelly dalam Urbanisasi dan Adaptasi). Seperti yang telah dikatakan Ki Hajar Dewantara, kebudayaan itu haruslah menyatu dengan kebudayaan asing. Akan tetapi tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya kita. Hal itu dikarenakan untuk menjaga kontinuitas budaya kita. Akhirnya rasa kekeluargaan dan saling bekerja sama masyarakat tradisional dalam membangun daerahnya yang terbungkus dalam gotong royong dan mengutamakan prinsip solidaritas sosial akan tetap ada, walaupun banyak bentuk gotong royong dan di dalam perkembangannya, berupaya beradaptasi dan memunculkan bentuk baru seiring dengan perubahan sosial yang ada di masyarakatnya. Kita sebagai pencipta dan pelaku budaya untuk selalu dengan bijak melakukan pemilihan dan pemilahan budaya yang sesuai saat masuk seiring arus globalisasi. Keanekaragaman budaya yang kita miliki harus menjadi identitas kita sebagai satu bangsa “Bhineka Tunggal Ika”. Daftar Rujukan Colletta, Nat J dan Kayam, Umar (Peny). 1987. Kebudayaan dan Pembangunan:sebuah pendekatan terhadap antropologi terapan di Indonesia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Mappiare, Syahrir, dkk. 1996. Dampak Globalisasi Informasi dan Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Pedesaan di Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah : Depdikbud. Pelly, Usman, Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta : LP3ES.

Posted in: Tak Berkategori