ElanVital Ber-PMII

Posted on Maret 8, 2011

1


Oleh: Tirmidi

Hantaran
PMII ber al-FatihahTanggal 22 Januari 2011 penulis ditelepon salah seorang Pengurus Cabang PMII Kota Malang untuk membuat artikel tentang sistem kaderisasi ideal yang rencananya akan dibuat bahan dan oleh-oleh di Kongres PMII yang akan diselenggarakan pada bulan Maret. Pada malam harinya, selesai diskusi di sebuah kantor komisariat PMII di Kota Malang tentang sebuah upaya untuk melakukan transformasi rumusan NDP yang sangat Qur’ani dan abstrak menjadi sebuah rumusan yang operasional dalam perspektif pengkaderan, surat resmi untuk permintaan artikel itu penulis terima.
Sepulang dari diskusi dimana penulis menerima surat resmi itu, penulis mencoba berfikir tentang sistem kaderisasi ideal. Ternyata, rumusan itu tidak segampang dan sesederhana yang kita bayangkan. Setelah membaca beberapa referensi tentang penyusunan kurikulum dan silabus, terbentang road-map yang harus diretas sebelum sampai kepada rumusan ideal suatu sistem kaderisasi (baca: kurikulum dan silabus pengkaderan). Road-map yang harus diretas itu, secara berurutan, ialah elan-vital (semangat hidup) ber-PMII,  state-of-the-art (kondisi mutakhir) dunia mahasiswa dan pergerakan, pilihan paradigma (Arab: wazn) gerakan, baru sampai kepada strategi, pola pengkaderan, plotting materi, kurikulum dan silabus, dan terakhir nantinya penyusunan buku pegangan kaderisasi.
Menyikapi ini semua, tulisan ini penulis batasi untuk membahas tentang elan-vital ber-PMII hari ini. Ini penulis lakukan karena selain ditemukan fakta bahwa sahabat-sahabat yang penulis ajak diskusi sebagian besar tidak bisa menjelaskan apa elan-vital ber-PMII hari ini, kalaupun ada yang bisa menjawab maka itu adalah jawaban kutipan dari buku-buku referensi PMII yang disusun pada masa Orde Baru atau masa-masa negara ini mengalami reformasi. Terkait itu, berikut ini sedikit cerita betapa elan-vital ber-PMII betul-betul telah menjadi keresahan mendasar, secara kasuistik, di Malang.
Di suatu pagi pada sekitar bulan Juli 2010, setelah hampir 14 tahun tidak terlibat diskusi dan interaksi intensif dengan sahabat-sahabat di PMII, penulis diajak teman kuliah yang juga sama-sama alumni PMII untuk ngopi di kedai kopi yang bersebelahan dengan Sekretariat PK PMII Sunan Kalijaga UM, di Malang. Sekretariat PK PMII Liga UM (demikian biasa disebut) ini agak unik karena ia menempati lantai satu pada sebuah musholla. Agak panjang ceritanya, namun secara singkat dapat penulis gambarkan bahwa karena ada simbiosis mutualisme yang terbangun sangat lama antara kader PMII dengan masyarakat di sebuah kawasan sekitar kampus UM, maka pada tahun 1993 para pengurus yayasan yang menjadi nadzir musholla menyepakati ruang marbout mushalla ditempati oleh personil PK PMII Liga UM yang dibelakang hari ini menjadi cikal bakal dijadikan musholla tersebut sebagai Sekretariat PK PMII Liga UM.
Sebenarnya hari itu bukan kunjungan pertama penulis di Sekretariat PMII Liga UM karena dalam beberapa kesempatan penulis sudah pernah mampir di lantai II mushalla itu untuk melakukan ibadah shalat. Dalam beberapa kali mampir tersebut sempat juga penulis curi dengar tentang diskusi-diskusi tentang pengkaderan, keinstrukturan, dan masalah-masalah keorganisasian dari beberapa pengurus yang kebetulan sedang rapat di lantai II. Dalam hati, penulis tidak bisa menaham senyum bahagia karena PMII, Sekretariat, dan berbagai program yang dijalankan di musholla ini, seperti penyelenggaraan Taman Pendidikan Al-Qur’an-Inggris (TPAI), yang merupakan tinggalan kami, PK PMII Liga periode 1993-1994, masih terus hidup dan dalam beberapa hal juga berkembang dengan baik.
Pada pagi itu, seperti biasanya, kedai kopi di samping Sekretariat sedang ramai pengunjung. Di bagian dalam, yang mengisyaratkan ke-lebih-dulu-an datangnya ke kedai, terlihat kelompok salesmen, kelompok makelar, dan para pebisnis pemula. Di bagian teras kedai hingga di bawah-bawah pohon rindang yang banyak tumbuh di sekitar mushalla terlihat beberapa pemuda mengelompok, yang kelihatannya adalah mahasiswa angkatan tua. Di bagian lainnya terlihat beberapa kelompok anak muda tanggung sedang kongkow-kongkow.
Tanpa penulis sadari, karena memang sudah tidak kenal, dua orang anak muda yang kelihatannya 5-10 tahun di bawah penulis, yang duduk melingkar di teras kedai datang menghampiri tempat duduk penulis di bawah rindang pohon agak jauh dari kedai. Benar, dengan penuh keakraban mereka meperkenalkan diri sebagai kader PMII yang 10 tahun di bawah penulis. Detik berikutnya, kedua pemuda ini memanggil semua anggota kelompok untuk berpindah ke tempat kami berdua duduk. Jadilah pagi itu sebuah reuni dadakan atas sembilan orang insan pergerakan, dari berbagai angkatan, dengan berdawai cangkir-cangkir kopi dan beberapa potong nyamikan hangat Kota Malang: tempe menjes, tahu berontak, dan tempe kacang yang semuanya masih panas.
Dalam diskusi santai yang dibalut hawa dingin Kota Malang itu kami membicarakan peristiwa-peristiwa pola rekrutmen dan pola-pola pengkaderan pada masa lalu yang terbingkai gelora dan penanaman semangat untuk melakukan reformasi atas banyaknya penyimpangan pada zaman Orde Baru. Sampai saatnya, salah seorang dari kami yang kebetulan merupakan kader yang baru saja menyelesaikan masa kepengurusannya di Komisariat Liga UM bertanya, “Kalau dulu zaman Mas Tirmidzi dan mungkin kakak-kakak senior beberapa tahun di bawahnya, semangat dan gelora pergerakan memiliki target dan parameter yang jelas. Hari ini, apa yang bisa menggantikan itu? Terus terang, saat ini, elan vital dalam ber-PMII sedang dalam tanda tanya besar!”
Dengan sedikit menghibur penulis katakan bahwa mulai dulu hingga sekarang elan vital dalam ber-PMII tetap sama, yakni ingin menjadikan diri ini sebagai individu yang baik, memiliki teman dan pergaulan yang juga baik, dan kalau ketemu jodoh di PMII maka istri kita adalah insan yang baik. Tawa berderai anggota kelompok diskusi menggema bersahutan dengan derai tawa dari kelompok seberang yang berada di teras dalam kedai.
Akan tetapi, kader muda PMII yang idealisme masih sangat menggelora ini  merasa jauh dari puas. Dengan nada suara yang agak tinggi ia tumpahkan kegundahannya itu dalam serangkaian pertanyaan yang sudah lama dia pendam dan pagi itu membuncah, ”Untuk apa berbuat baik, Mas?, tanyanya. ”Untuk apa pula kita perlu menjadi manusia baik?; untuk apa PMII bersusah payah dipertahankan, padahal banyak jalan untuk ’sekedar’ menjadi baik?; bagaimana PMII bisa menjawab bahwa dengan bergabung dengan PMII kita tidak tersesat, keliru, dan tertipu?; bisakah PMII membuktikan bahwa kalau betul kita bisa menjadi orang baik, misalnya, disitu memang ada jasa PMII?; terus untuk…”
”Stop!” penulis bilang. ”Menarik. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat mendasar,” ucapku. ”Dulu kami tidak sempat mempertanyakan itu semua karena musuh, target, dan parameter kami saat itu terlalu jelas. Pertanyaan-pertanyaan ini sangat khas sebagai pertanyaan saat ini,” tandasku kemudian.
Diskusi harus diakhiri karena adzan Dhuhur berkumandang. Sebelum bersama-sama mengambil air wudlu’, penulis katakan kepada seluruh peserta diskusi yang saat itu hadir bahwa kita perlu diskusi marathon terkait pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, terutama penemuan elan vital ber-PMII saat ini. Dalam proses pencarian jawaban itu, berikut ini sebagian hasil yang mungkin dapat di-sharing-kan dalam kesempatan ini.

Pernyataan Tesis
Merenungkan apa yang kita alami dalam tahapan MAPABA, PKD, dan PKL yang dilakukan oleh PMII, penulis menemukan bahwa elan vital ber-PMII terletak pada usaha terus menerus untuk melakukan dialektika antara rumusan NDP dan sistem perkaderan. Artinya, bila masih terdapat sesosok atau beberapa orang yang senantiasa melakukan dialektika di dua domain ini maka PMII tidak akan pernah kehilangan elan vitalnya di sepanjang zaman. Sebaliknya, bila sampai terjadi krisis ketersediaan orang yang bersedia melakukan dialektika kedua domain itu, maka tidak akan lama lagi PMII akan tutup dan selanjutnya hanya akan menjadi fosil-fosil pergerakan mahasiswa yang anteng di etalase-etalase ruang museum.
Khusus saat ini, penulis mencoba melakukan dialektika itu, dan penulis temukan  bahwa proses kita ber-PMII secara komprehesif (kaffah) sebangun dengan Surat Al-Fatihah! Penjelasan secara umumnya ialah sebagai berikut.

Refleksi Ber-Fatihah
Sudah jamak dipahami di PMII, karena ini merupakan ayat standar yang harus dijadikan renungan dalam prosesi pembaiatan calon anggota, yakni bahwa sewaktu di alam benih semua manusia melakukan persaksian kepada dirinya sendiri di hadapan Allah Swt. bahwa dirinya adalah hamba, dan Allah Swt. adalah Tuhannya, meskipun, atas perjanjian ini, sebagaimana Allah Swt. tegaskan, kelak di hari kiamat banyak manusia yang menyatakan lupa.  Di ayat yang lain, Allah Swt. menyindir manusia tentang penyebab kealpaan manusia tentang janji dan sumpah mereka tersebut, yakni sifat gegabah, dan pikiran picik manusia yang bersedia menukar janji mereka kepada Allah Swt. beserta segenap sumpah-sumpah atas namaNya dengan sesuatu yang murah.  Penyebab lain hingga terjadinya kealpaan itu ialah karena kezaliman dan kebodohan manusia sendiri.
Apa parameter (variabel penentu) bahwa manusia dikatakan amanat atau khianat (zalim)? Tidak lain dan tidak bukan ialah tugas dan fungsi kita sebagai abdullah , dan khalifatullah fil ardl . Bila kita dipandang sukses oleh Allah Swt. dalam menjalankan dua tugas dan fungsi ini, maka tunai sudah tugas itu. Sebaliknya, bila kita dipandang khianat oleh Allah Swt., maka jangan berharap Allah akan menyapa kita di Hari Pengadilan kelak.
Berangkat dari kesadaran akan beratnya pelaksanaan dua tugas tersebut karena langit, bumi, dan gunung enggan untuk menerima amanah yang kedua, yakni khalifatullah fil ardl , namun dengan segala i’tikad (tekad bulat) untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, maka, tidak ada pilihan lain, dengan segala totalitas penghambaan, kita menyatakan bismillahi (demi, untuk, atas nama, dengan panduan, dengan pertolongan, dan dengan segala rahasia yang dimiliki Allah) ar-Rahman (yang Maha Pengatur) ar-Rahiim (Maha Teliti) kita laksanakan dua tugas dan fungsi yang mulia namun berat ini. Inilah ayat pertama surat Al-Fatihah. Kita sadar bahwa tiada sedikitpun kemampuan, hak, kepahaman, apalagi kepentingan, yang melekat pada diri kita sebagai hamba kecuali atas hal-hal yang diizinkan oleh Tuhannya.
Berbasis totalitas penghambaan kepada Allah Swt. ini kita masuk pada wilayah keyakinan bahwa kita akan mampu menjalankan amanat dengan baik bila kita tetap dalam aturan, panduan (hidayah) Allah Swt. karena semua yang ada ini adalah milik Allah Swt., pengikat karakteristik seluruh alam (ayat 2). Oleh karena itu, apa yang menjadi aturanNya (manual) kita yakini sebagai sesuatu yang pasti benar, sebagai panduan, sekaligus bantuan buat kita. Dia Maha Pengatur dan Maha Teliti (ayat 3), dan akan meminta pertanggungjawaban kita kelak di hari yang ditunda (ayat 4).
Dengan segala kesadaran atas ke-serba-Maha-an yang dimiliki Allah Swt., dan pertanggungjawaban kelak di hari kemudian ini maka tidak pantas bila kita menyembah dan memohon pertolongan kepada selainNya. Oleh karena itu, terikrar dengan tegas dalam suasana individual dan langsung, hanya kepadaNya-lah kita menyembah, dan hanya kepadaNya pula kita memohon pertolongan (ayat 5); tidak ada manfaatnya menyembah dzat selainNya yang tidak punya kuasa apa-apa terhadap alam ini, dan kelak juga tidak akan meminta pertanggungjawaban apa-apa kepada kita. Cukuplah kita menyembah pencipta, pengatur, pemandu, dan Dzat yang menjadi penguasa di hari pertanggungjawaban!
Sampai di sini, seharusnya, andaikan hati manusia tidak rapuh dan mudah goyah, maka Surah Al-Fatihah yang ada di dalam Al-Quran diputus di sini saja! Semuanya sudah tuntas: kesadaran, keyakinan, dan ikrar sudah dilalui semuanya. Tidak ada lagi yang dibutuhkan. Kita betul-betul sudah muslim (pribadi yang berserah diri).
Demikianlah yang terjadi pada makhluq lain di alam semesta ini selain manusia. Mereka secara otomatis menaati semua sifat-sifatnya, yakni menghamba dan berserah diri (muslim) kepada Allah. Di sisi lain, manusia diberi ruang untuk memilih: mau menaati perintah Allah atau mengingkarinya. Transformasi dari eksistensi menjadi keharusan ini merupakan keistimewaan dan resiko yang unik dari manusia. Kembali lagi, inilah arti dari pernyataan persaksian primordial di hadapan Allah di alam benih itu.
Oleh karena itu, Allah Swt. tidak percaya begitu saja atas pernyataan manusia tentang kesejatian penghambaan manusia yang telah dikatakannya berkali-kali tersebut , karena penghambaan manusia oleh Allah disikapi sebagai process of becoming (proses untuk menjadi); bukan the state of being (kondisi yang sudah jadi). Oleh karena itu, terkait ini semua, Allah Swt. akan menguji manusia dengan berbagai bentuk ujian  yang kesemuanya dijadikan media untuk melihat siapakah pejuang sejati (mujahid) yang berjuang dengan penuh kesabaran , dan siapa yang palsu (berpura-pura). Segala bentuk ujian ini harus dihadapi oleh manusia untuk menempa diri dalam mengikis kelemahan mendasarnya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, kelemahan manusia yang paling mendasar dan darinya kemudian timbul semua dosa-dosa besar adalah kepicikan (dha’f), yakni pola pikir here-and-now (kebalikan dari retrospective dan prospective), dan kesempitan pikiran (qathr), yakni tidak berpikir akibat jangka panjang . Kepicikan dan kesempitan hati ini kemudian menimbulkan sifat negatif, yakni suka terburu nafsu, panik, dan tidak berpikir panjang tentang dampak-dampak di masa depan . Sifat terburu nafsu ini kemudian mengantarkan manusia kepada sifat sombong atau putus asa: ketika memperoleh rahmat maka dengan segera manusia melupakan Allah, sementara bila memperoleh kesusahan ia menjadi kembali mengingat Allah, namun ada juga kemungkinan ia terbenam dalam keputusasaan itu sendiri . Kondisi-kondisi ekstrim ini, yakni kikir, mementingkan diri sendiri, terburu nafsu, sombong, dan putus asa (kondisi perasaan benar-benar negatif dan anggapan bahwa dirinya adalah maha kuat). Kondisi ekstrim ini adalah ”kondisi syeitan” yang di dalam efek-efek moralnya menempati tempat sama: nihilisme moral.
Menjadi sombong sebagaimana dilakukan oleh Iblis sangat dilaknat oleh Allah . Akan tetapi, berputus asa juga sangat dikutuk oleh Allah karena juga dianggap sebagai kekufuran . Dengan kata lain, kesombongan dan keputusasaan sama-sama merupakan perbuatan orang yang tidak beriman (kufr), yakni orang yang telah kehilangan energi moral. Dalam diri seseorang yang telah kehilangan energi moral ini maka pemujaan berhala menjadi efek berikutnya. Ini terjadi karena setelah tidak memiliki lagi tambatan transendental bagi tingkah lakunya maka seseorang akan menyembah hasrat-hasratnya sendiri (hawa nafsu) . Dalam tahap yang lebih parah, pada saat pandangan moral menjadi sempit dan manusia tidak lagi memiliki dimensi transendental maka tidak ada lagi perbedaannya apakah manusia akan memandang dirinya (mis. Fir’aun), masyarakatnya (mis. kaumnya Nabi Nuh, Nabi Shalih, Nabi Luth, dan lain-lain) atau bangsanya sebagai Tuhan. Inilah puncak kesesatan akibat kepicikan manusia.
Dalam dimensi inilah perjuangan untuk tetap berada pada ”jalan tengah” menjadi basis penilaian Allah terhadap manusia. Fazlur Rahman menyebut ”jalan tengah” (sirathal mustaqim) itu ialah taqwa, yang terambil dari kata wqw yang berarti berjaga jangan sampai terjerumus. Ia juga berarti melindungi diri dari akibat-akibat perbuatan sendiri yang buruk dan jahat. Perlindungan itu akan diperoleh bila kita tunduk dan patuh dengan panduan yang diberikan Allah. Dengan panduan itu kita bangun kekokohan mental dalam menghadapi tensi-tensi moral (agar senantiasa tetap di dalam ”batas-batas yang telah ditetapkan Allah”), dan tidak goyahnya keseimbangan pada saat tensi-tensi moral itu menyeruak dengan ”melanggar” batas-batas tersebut. Sekali lagi, inilah medan jihad yang tidak akan pernah berkesudahan bagi manusia sebagai mahluk individu.
Oleh karena itu, panduan dari Allah senantiasa kita minta (ayat 6), agar kita tetap pada jalur orang-orang yang diberi nikmat (kesempatan untuk tetap beredar di muka bumi), bukan jalan yang dimurkaiNya dan sesat (ayat 7). Untuk itu, yang perlu kita lakukan ialah senantiasa mendengarkan kata hati (fitrah) , bukan justru menuruti hasrat-hasrat subyektif (hawa nafsu) yang menyesatkan dan mendatangkan kesulitan-kesulitan . Inilah golongan orang-orang yang diberi nikmat ; bukan golongan orang-orang yang diadzab oleh Allah karena Allah sudah murka atas mereka , atau orang-orang yang dhalim kepada dirinya sendiri sehingga mereka tersesat .
Untuk memandu agar diri kita tetap berada pada golongan orang yang senantiasa diberi nikmat, maka ada tiga ilmu yang penguasaannya harus menjadi prioritas untuk dikuasai oleh manusia, karena ketiga ilmu ini senantiasa memandu manusia untuk mengingat Allah. Ketiga jenis ilmu itu, yang pertama ialah ilmu mengenai alam yang telah dibuat Allah untuk tunduk kepada manusia ; kedua ialah ilmu pengetahuan sejarah (dan geografi) ; dan yang ketiga ialah ilmu tentang dirinya sendiri (fisis, dan psikis) .
Dari ilmu mengenai alam dan hukum alamnya kita kemudian mengetahui bahwa alam ini sengaja ditundukkan oleh Allah kepada manusia melalui segala regularitas (keteraturan) yang ada. Semuanya dilakukan untuk mempermudah manusia dalam mengelolanya. Alam semesta ini ada adalah untuk dimanfaatkan manusia demi mencapai tujuan-tujuannya. Namun demikian, tujuan akhir manusia ialah untuk mengabdi kepada Allah, bersyukur kepadaNya, dan menyembah Dia saja. Selanjutnya, pengetahuan tentang sejarah dan geografi yang sering digambarkan dengan kalimat ”berjalan di muka bumi” adalah untuk menyaksikan apa yang telah terjadi kepada kebudayaan-kebudayaan di masa lampau dan mengapa kebudayaan-kebudayaan itu dapat bangkit dan mengapa pula bisa runtuh. Terakhir, ilmu tentang diri sendiri ialah pengetahuan-pengetahuan tentang nikmat dhahir yang diberikan dalam bentuk organ-organ tubuh dan sistem kerjanya, dan nikmat bathin dengan segala kesempurnaan. Namun demikian kita juga harus paham bahwa dalam segala kesempurnaan wadag kasar bernama tubuh, dan kesempurnaan soft-ware bathin itu, terdapat ukuran, dan kelemahanya. Kelemahan batiniah yang paling mendasar dari manusia sebagaimana diuraikan di atas, mutlak harus dipahami dengan disertai pemahaman tentang tensi-tensi moral yang dihadapinya, serta hati nurani (fitrah) yang harus dijaganya.
Ketiga ilmu ini masih merupakan pengetahuan ”ilmiah” karena masih berdasarkan pengamatan ”mata dan telinga”. Pengetahuan ”ilmiah” ini harus ”sampai ke hati” dan menghidupkan persepsi batin manusia. Tanpa persepsi batin yang hidup maka ilmu-ilmu itu akan menjadi sangat berbahaya karena manusia akan menjadi lengah akan akibat-akibat yang akan ditanggungnya di akhirat . Sebaliknya bila persepsi batin kita hidup maka kita akan mampu menghindarkan dari perbuatan-perbuatan aniaya (dhalim), terutama sekali menyembah tuhan-tuhan palsu. Perbuatan aniaya ini disebut dlalal (sesat), sebuah jalan yang tidak akan mengantarkan ke mana-mana; sebuah jalan yang kita mohon kepada Allah untuk terhindar darinya.

Benang Merah Ber-Fatihah dengan Sistem Kaderisasi PMII
Untuk sekedar sebagai executive summary (kesimpulan untuk dijadikan poin-poin pelaksanaan atas apa yang dimaksudkan), berikut ini penulis uraikan refleksi elan-vital kehidupan yang dapat disarikan dari Surat Al-Fatihah dan bagaimana preskripsi sistem pengkaderan di PMII berdasarkan sari elan-vital berkehidupan tersebut. Pertama, paparan ayat 1-4 dalam Surat Al-Fatihah adalah ungkapan totalitas penghambaan seseorang kepada Allah, dan i’tikad (tekad bulat) untuk melaksanakan tugas (amanah) itu dengan panduan dan pertolongan Allah. Totalitas itu terbangun karena kita sadar bahwa kita tidak pernah meminta apalagi memilih untuk diciptakan sebagai manusia yang memiliki dua tugas dan fungsi yang sangat berat sehingga langit, bumi, dan gunung pun enggan menerimanya karena khawatir khianat kepada Allah; kita pun sadar bahwa tidak ada pilihan lain kecuali kita berserah diri dan menerima dua tugas mulia dan berat itu dengan niatan: demi, untuk, atas nama, dengan panduan, pertolongan, dan dengan segala rahasia Allah (bismillahi).
Kesadaran-kesadaran yang membangun totalitas penghambaan kepada Allah harus mampu ditranformasikan secara tuntas dalam pelaksanaan MAPABA di PMII. Tahap ini harus digunakan dan disikapi sebagai kesempatan untuk membangun kesadaran-kesadaran dalam diri mahasiswa tentang dua tugas dan fungsinya di muka bumi sebagai manusia, yakni abdullah dan khalifatullah fil ardl.
Berangkat dari kesadaran atas hal yang mendasar ini kemudian segera dibangun kesadaran tentang langkah-langkah yang harus dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan dua tugas dan fungsi tersebut (Al-Baqarah:31-33), yakni penguasaan ilmu-ilmu agama agar mampu menjaga ketauhidan kita kepada Allah dan hablun min Allah, ilmu-ilmu tentang alam (kauniyah) untuk melaksanakan hablun minannas dan hablun minal alam, dan soft skill minimal yang harus dikuasai untuk pelaksanaan fungsi khalifah, antara lain keterampilan dasar untuk melakukan analisa lingkungan (bio-geo-fisik dan sosial), keterampilan administrasi, managerial, leadership, human and interpersonal relation, komunikasi, dan menjaga kebersihan jiwa (tazkyat an-nafs). Dengan transformasi ini maka calon anggota yang telah mampu diantarkan untuk beri’tikad (bertekad bulat dan teguh pendirian) untuk melakukan penghambaan kepada Allah akan menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa harus bergabung di PMII untuk mewujudkan i’tikad tersebut!
Selanjutnya, benang merah antara ayat 5 dalam surat Al-Fatihah dengan PKD adalah sebagai berikut. Ayat 5 Surah Al-Fatihah  adalah deklarasi seorang manusia kepada Allah untuk mengorientasikan segala penghambaannya hanya kepadaNya (tauhid), dan oleh karena itu, permohonan pertolongan juga dialamatkan kepadaNya. Hanya saja, harus diingat bahwa pernyataan ketauhidan itu akan diuji oleh Allah sehingga akan diketahui siapa yang sejati dan siapa yang  palsu. Terkait ujian-ujian ini maka manusia harus terus menerus berjuang (jihad) agar kita tetap berada di ”jalan tengah” (shirathal mustaqim) dan mampu mengatasi tensi-tensi moral yang mengajak manusia untuk melakukan nihilisme moral. Kita sadari bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang tanpa kesudahan, hingga pada masanya kita menghadap kepada Allah.
Elan-vital atau ruhul jihad  ini harus mampu ditangkap oleh kader yang ikut dalam PKD, yakni manusia, siapapun dia, harus berjuang karena ada serangkaian paket ujian dari Allah. Terkait dengan perjuangan (jihad) ini, PMII kemudian harus menerjemahkan dalam konteks PMII sebagai organisasi kader yang merupakan sub dari kerja-kerja besar pendidikan secara umum. Sebagai bagian dari kerja besar pendidikan maka PMII harus mewujudkan dirinya sebagai lembaga pendidikan (baca: lembaga pengkaderan) yang baik, yakni, sebagaimana terurai dalam Q.S Ibrahim:24-26), memiliki akar menghujam, cabang menjulang, dan senantiasa menghasilkan buah (yang dapat dimanfaatkan) pada setiap musim. Sekali lagi, dalam bingkai inilah jihad yang dimaksudkan di PMII! Alumni PKD diharapkan dapat mewujudkan amanat dari PMII sebagai kader mujahid dalam konteks ini.
Terakhir, benang merah antara ayat 6-7 dalam surat Al-Fatihah dengan penyelenggaraan PKL. Sebagaimana dipaparkan di atas, Ayat 6-7 Surat Al-Fatihah berisi permohonan untuk senantiasa dipandu Allah di jalan yang menuju kepadaNya, yakni jalan-jalan yang dilalui golongan yang diberi nikmat; bukan golongan yang diadzab karena dimurkai dan aniaya. Sebagai konsekuensi dari orang yang sedang memohon sesuatu maka kita harus berada di wilayah kepantasan untuk diluluskannya permintaan itu. Terkait dengan permintaan agar senantiasa dipandu untuk memperoleh hidayah ini maka kita perlu mencontoh prilaku orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah, yakni nabiyyin, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin. Ciri utama orang-orang dalam kategori ini adalah bila disampaikan kepadanya ayat (tanda keagungan) dari Dzat yang Maha Mengatur (ayaturrahman) maka ia segera tertunduk, tersungkur, dan bersujud, serta menangis .
Untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman sebagaimana orang-orang dalam kategori ini kita perlu memiliki penguasaan atas tiga ilmu: ilmu alam, sejarah dan geografi, dan ilmu tentang mikrokosmos. Harap diingat, pengertian menguasai ilmu ialah mampu memahami hingga ditemukan bangunan teorinya (proposisi, teori substantif, middle-range theory, dan grand theory). Tambahan satu lagi, ketiga ilmu ini penguasaannya harus sampai ke hati karena ilmu itu sendiri harus disikapi sebagai cahaya (nuur) yang dapat menghidupkan persepsi batin.
Terkait PKL, para alumninya diharapkan mampu melihat sisi-sisi lemah dari kondisi organisasi dalam konteks kekinian (dhulumat), dan kemudian mendefinisikan kondisi masa depan yang diharapkan dan dituju (nuur). Di sinilah letak pentingnya tujuan agar alumni PKL memiliki persepsi batin yang hidup. Darinya ia akan mampu menemukan empirical gap dan theoretical gap atas suatu fenomena. Luaran sosok yang menjadi alumni PKL adalah sosok yang memiliki expert power: change, dream, model, empower, love. Dan, sosok tersebut juga memiliki reverent power: trustworthy, competent, forward-looking, risk-taker.

Penutup
Demikian sumbangan kecil untuk memunculkan pemikiran tentang elan vital-elan vital yang lain dalam ber-PMII. Dapat diutarakan sebagai sebuah kesimpulan bahwa, apabila mampu ditemukan aktualisasi dan kontekstualisasi elan-vital ber-Fatihah menjadi elan-vital ber-PMII, maka PMII tidak akan pernah menjadi fosil atau lekang oleh zaman. Dengan mengkader diri di PMII, penulis yakin bahwa di dalam pelaksanaan shalat kita, kita akan mampu ber-Fatihah secara lebih baik: Fatihah kita adalah Fatihah penuh makna; bukan fatihah yang sekedar mantra tanpa matra. Dalam PMII yang kontekstual dan transformatif maka makna itu akan menemukan tanah tempat bersemainya. Kedua, refleksi nilai-nilai Al-Fatihah yang kita peroleh dari proses mengikuti segala rangkaian perkaderan di PMII juga akan mengejawantah menjadi pribadi ikhlas dalam beribadah; sabar dan teguh dalam berjuang; jeli dan jitu dalam melakukan transformasi diri, dan juga transformasi saat bersama umat.
Sekedar mengingatkan, paparan ini harap disikapi sebatas stimulan demi ditemukannya elan-vital-elan-vital yang lain dalam ber-PMII saat ini, dan di negara ini. Pada saatnya, saat elat vital yang konprhensif telah ditemukan, kita bisa mendiskusikan domain yang berikutnya dalam rangkaian roadmap untuk penemuan konsep perkaderan ideal yang diharapkan, berupa state-of-the-art (kondisi mutakhir) dunia mahasiswa dan pergerakan, pilihan paradigma (Arab: wazn) gerakan, baru sampai kepada strategi, pola pengkaderan, plotting materi, kurikulum dan silabus, dan terakhir nantinya penyusunan buku pegangan kaderisasi..
Karena hanya sebatas stimulan, sangat mungkin Sahabat-Sahabat menemukan rumusan elan vital yang lain yang justru lebih fresh dan urgent. Satu hal yang, mungkin, dapat kita sepakati ialah bahwa PMII masih memiliki peluang besar untuk menjaga eksistensinya di masa mendatang, mengingat lembaga ini akan tetap dibutuhkan oleh generasi mendatang yang disebabkan oleh tingkat kehausan spiritual yang  jauh lebih tinggi daripada generasi-generasi sebelumnya. Bukan tidak mungkin, PMII justru akan menjadi media untuk ngambah dhalan, thariqah, atau suluk bagi para mahasiswa dalam melakukan mujahadah menuju Tuhan.
’Ala kulli hal, Kongres PMII yang merupakan permusyawaratan tertinggi di PMII sebagaimana di atur dalam Anggaran Dasar PMII, dan PB PMII secara umum ada baiknya memikirkan secara serius tentang kerja-kerja amanah, sabar, dan cerdas, pada track road-map yang dipaparkan di atas. That’s it, kelihatannya memang masih panjang peta lintasan yang harus dilalui PMII untuk menemukan sistem kaderisasi idealnya. Marilah ini semua kita sikapi sebagai medan jihad, ijtihad, dan tajdid kita. Insyaallah ada apresiasi dari Allah Swt.
Syukurlah, tugas itu hari ini telah sampai di tangan para kader PMII yang membaca tulisan ini. Penulis telah punya banyak teman untuk menuntaskan ini. Semoga roadmap ini betul-betul dapat dituntaskan! Wallahu a’lamu bi al-shawab.