M. Nur Wahid Abdulloh Ajak PMII UM Fokus Di Dunia Usaha

Posted on Juli 10, 2011

2


DUM. Nur Wahid Abdulloh mantan Ketua PMII Komsat UM  menyatakan sektor wirausaha merupakan sektor yang menjanjikan peluang kesejahteraan dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Karena itu, ia mengajak warga PMII untuk masuk dan menguatkan sektor ini jika ingin sukses.

Dijelaskannya, saat ini pemerintah hanya memberikan kontribusi sekitar 10 persen dalam perekonomian dan semakin lama, kontribusinya semakin turun, digantikan oleh sektor dunia usaha. Semakin maju dunia usaha, semakin kecil kontribusi pemerintah dalam perekonomian.

“PMII kalau mau maju harus fokus di dunia usaha, bukan di pemerintahan,” Ia menggambarkan saat ini, Indonesia menuju golden era. Pada tahun 2011, PDB Indonesia sedikit diatas 3000 dolar Amerika per tahun, pada tahun 2025, diproyeksikan sudah mencapai 14.250-15.500 dolar Amerika per tahun. Sebuah negara dikategorikan sebagai negara maju jika PDB per kapitanya sudah mencapai 10.000. Dengan kerja yang serius, Indonesia mampu mendobelkan PDB-nya setiap lima tahun sekali sehingga pertumbuhannya lebih cepat.

Berdasarkan proyeksi dari IMF yang dikeluarkan April 2011, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia nomor dua dengan pertumbuhan PDB per tahun sebesar 14.5 persen. Di tingkat ASEAN, Indonesia merupakan kekuatan ekonomi terbesar yang menguasai 40 persen di 6 negara terbesar ASEAN atau 38 persen dari 10 anggota ASEAN. Dalam 10 tahun ke depan, diperkirakan lebih dari 50 persen kekuatan ekonomi berada di tangan Indonesia.

Tahun 2011, Indonesia akan mengalahkan Belanda dalam besaran ekonomi karena tahun 2010 lalu, sudah mencapai 91 persen. “Inilah untuk pertama kalinya kita revans dengan Belanda. Demikian pula, PMII harus revans dengan yang lain,” ajaknya.

Untuk mempercepat dan perluasan pertumbuhan ekonomi, pemerintah telah menetapkan tujuh koridor ekonomi di seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi saat ini masih didominasi di pulau Jawa.

Terdapat iga fokus dalam master plan tersebut, yaitu pemberian nilai tambah, bukan hanya mengekspor bahan mentah, kedua efisiensi produksi dan konektivitas nasional, untuk mengurangi disparitas harga, seperti harga semen yang mencapai 1 juta per sak di Papua dan terakhir inovasi nasional.

Sayangnya, dari sebegitu besarnya kue ekonomi Indonesia, 80 persen umat Islam hanya menguasai 20 persennya. Ia berharap ada proses pembagian kue yang semakin merata sehingga berkeadilan. “Saya berharap ke depan lahir entrepreneur-entepreneur sukses dari PMII,” paparnya.

Salah satu sektor yang layak menjadi perhatian adalah sektor consumer dan komoditas. Ini terkait dengan pertambahan penduduk yang terus menerus. Pada tahun 2050, diperkirakan bumi ini dihuni oleh 9 milyar penduduk yang semuanya membutuhkan makam, minum, dan kebutuhan lainnya. PBB memperkirakan dunia mengalami kelangkaan dalam hal pangan, air dan komoditas.

“Kalau PMII mau sukses, jangan keluar dari trend itu. Kalau selama ini masih ketinggalan, ngak papa, yang penting masa depan,” paparnya.

Ia berharap potensi pertumbuhan ekonomi ini tidak dinikmati oleh orang asing, Sejumlah pengusaha asing berbondong-bondong menanamkan uangnya di Indonesia. Dari Korea Selatan saja banyak investor besar yang menanamkan modalnya sampai milyaran dolar, belum yang skala kecil yang hanya mempekerjakan puluhan pekerja. Ia mengusulkan agar investasi dengan keuntungan besar diperuntukkan buat pengusaha nasional sedangkan investor asing dialokasikan usaha sulit dengan margin kecil.

“PMII harus memperjuangkan investasi kecil dengan margin besar harus diperuntukkan bagi kita sendiri ini. Jangan sampai yang menikmati bukan kita,” katanya.

Pengembangan ekonomi diakuinya tak mudah, paling tidak terdapat tiga hambatan yang harus diatasi. Pertama, hambatan kultural. “Orang melayu kalau dibilang malas selalu marah, tetapi ketika ditanya siapa yang bekerja keras, tak ada yang tunjuk jari,” terangnya. Padahal orang China dan Korea bisa bekerja sampai 18 jam per hari.

Sementara itu, pandangan agama juga menjadi masalah, pada dai dalam ceramahnya selalu menyebut siksa kubur, seolah-olah kalau jadi pengusaha dekat ke neraka. “Kita tidak bisa mendapat akhirat kalau tidak melewati dunia dahulu, jadi kaya lebih bermanfaat, bisa berzakat lebih banyak, bisa memberi pekerjaan orang dan lainnya,”  paparnya. Hambatan terakhir adalah soal pendidikan, banyak tenaga yang belum terlatih dengan baik sehingga produktifitasnya kurang maksimal.

Sejumlah modal untuk bisa menjadi sukses adalah percaya diri, optimis,  inovatif, kreatif dan kerja keras. Namun semua itu tak cukup hanya dengan mengikuti seminar, melainkan sebuah proses pembelajaran dan pembiayaan yang melelahkan dan membutuhkan waktu lama “Tuhan tak adil kalau yang ngak kerja keras yang sukses,” tuturnya.

PMII, tuturnya, bisa mempromosikan budaya kewirausahaan lewat organisasi dengan inovasi dan kreasi. Selama ini banyak orang hanya bertahan di zona nyaman, karena itu harus dibangun sebuah inovasi sebagai business as not as usual, termasuk bagaimana PMII memberdayakan kadernya.

Situasi pertumbuhan ekonomi yang cepat di Indonesia saat ini, merupakan kesempatan bagi wirausahawan baru untuk turut berpartisipasi menikmati kue pembangunan. “Kalau bisa ikut, kesalahannya ada dua faktor, karena pemimpinnya yang tidak memberi kesempatan, atau karena malas,” tandasnya.